Hardest Hello II

Untitled

“Well. We’re nearly seven years older now. Things aren’t the same.”

“Yet I still like the same things,

Halo, lagi, (terdengar aneh, tapi pasti sudah bosan kalau sapaannya “hello again”)

Ingin bercerita saja, seorang sahabat kemarin bilang, “Kamu belum tahu rasanya menangisi orang,” padaku. Kalau mau jujur dan memperpanjang pembicaraan aku bisa saja memaparkan sebuah dongeng klasik yang beberapa sudah bosan mendengarnya, tapi buat apa? Akhirnya aku hanya mengiyakan dan memilih memutar bahasan.

Memang aku belum pernah menangisi orang, menangisimu lebih tepatnya. Tidak pernah ada air mata tertumpah untukmu, karena rasanya kamu tidak pantas untuk diratapi. Namun tahun-tahun yang kujalani harus dengan langkah terseret juga bukan hal  yang bisa dianggap biasa. Masa yang lelah kutapaki untuk belajar menjadi seorang yang lebih ‘sadar’ dan ‘tegar’ bahkan mendekati dekade. Selama itu aku masih terus-menerus berguru pada waktu. Merabai yang salah, yang benar, yang tidak nyata, yang fana, yang akan meluka, yang hanya rataan, yang dusta, yang tidak akan berakhir bersama. Jauh dari kata mudah. Setiap aku merasa aku akhirnya bisa, selalu saja ada ihwal sederhana yang merusaknya.

Jadi aku bisa dan harus bilang, even though I’m not –I did not—crying, it still hurts. And I still have scars.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s