of tomato and pecorino

bucatini-all-amatriciana-71219-1.jpeg

The wind hurts,
The sea that we watched together hurts,
The waves that look like you, it hurts,
The more I love you the more it hurts

Satu momen yang sudah jarang terjadi melihat dua temanku dengan santainya tiduran di ruang tengah rumahku. Apalagi alasannya kalau bukan karena jadwal yang berbenturan setiap saat, membuat kami sulit berkumpul lengkap padahal kami tinggal di satu kota yang sama. Long weekend kali ini jadi pengecualian sehingga kami bisa meluangkan waktu barang semalam untuk berkumpul.

I kinda missing your cook, Sya. Masaklah sesuatu buat kami,” Sinna menyikutku yang sedang menggonta-ganti channel tv dengan malas. Ray menunjuk martabak jutaan rasa yang masih utuh di atas meja tanpa suara yang ditanggapi Sinna dengan gelengan serius, “No. I want Sya’s signature dish in a big portion because I forgot the taste. Pretty please??”

Ray menendangnya dari sofa hingga dia terguling, “Where have you been, my baby Sinna? Aslesya hates pasta now. Jadi lupakan saja rasa rindumu itu.”

Sinna langsung menepuk kedua pipiku agak keras, “Are you on diet or what, Sya?” Kusingkirkan tangannya sambil merengut tanpa mengatakan apa-apa. “So I can’t enjoy that heavenly all’Amatriciana anymore now? Why Sya, why?” protes Sinna berlebihan.

I just don’t like pasta and cheese,” dua gadis di hadapanku mengerutkan dahi penuh keraguan mendengar jawabanku “Anymore.” Sambungku setengah hati. Ray tergelak sembari memelukku sementara Sinna masih kebingungan.

Oh my, broken hurt did hurt you that bad, huh?” celetukan Ray seperti menyalakan lampu di kepala Sinna yang kemudian ikut mengelus-elus kepalaku. Menyebalkan memang. “Astaga, aku lupa kalau makhluk satu itu penggila pasta. I’m sorry Sya, tapi apa kamu harus benar-benar berhenti memasak untuk kami? Come on, sekali saja?”

“Nanti rasanya tidak enak kalau dimasak tidak pakai hati. You can oder them if you really want it.” Tolakku tegas meski dengan suara pelan. Sinna menyeringai lebar dan meneguk kaleng bir yang dari tadi terabaikan. “Fine, I won’t ask for that again. A rice pilaf then?”

Ray mengusap wajah frustasi “Astaga Sinna, he likes, eh, I mean he liked all of Sya’s cooks, please be more considerate towards her.” Mendengar itu, bantal yang daritadi kupeluk melayang ke kepala Ray. “I hate you guys. So much,” ujarku bersungut-sungut yang malah membuat mereka tertawa keras. “Tidak seharusnya aku berteman dengan kalian. You could  leave, kalian tahu di mana pintu keluarnya kan?”

Sinna berdecak, “No one love you like we do, Sya darling. Even the Great Anandhi can not beat us,” aku menggerung mendengar nama itu keluar dari mulut Sinna dengan entengnya. Dia memang agak skeptis, baginya menaburkan garam di atas luka itu sudah jadi keharusan. “What? Did I say something wrong?” Aku dan Ray sama-sama mendiamkannya dan memilih untuk mengunyah kue manis dengan topping warna-warni yang tadi kami pesan. Sinna akhirnya mengedikkan bahu tidak peduli dan ikut diam. Malam itu berakhir dengan kami bertiga yang kekenyangan dan setengah tipsy karena taruhan bodoh berlomba menghabiskan bir terbanyak.

Sebelum benar-benar tertidur, sekelebat ekspresi bahagia di wajah Anan tiap mencicipi masakanku tiba-tiba melintas membuatku pandanganku mengabur beberapa saat. I used to cook various pasta dishes for him, jadi begitu dia tidak menginginkanku menjadi kokinya lagi, kemampuanku memasak rasanya hilang. Beruntung aku masih bisa mendadar telur tanpa membuatnya gosong. Dulu dapur adalah tempat favorit yang bisa membantuku menghilangkan stress, but now, melihat deretan alat masak bisa membuatku mual dan merinding tanpa sebab. Apakah ini termasuk PTSD? Apa aku perlu menemui psikolog? Tidak ingin kepalaku meledak karena memikirkan hal tidak berguna, aku langsung mematikan lampu, dan terbangun kesokan paginya karena rengekan Sinna yang kelaparan memintaku membuatkannya sarapan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s