Deception

Passing by the edge of winter

Mungkin memang ada yang salah dengan isi kepalamu ketika kamu mengiyakan ajakanku untuk pergi ke amusement park di bulan yang masih beku begini. Aku sangat tahu, kamu membenci taman bermain. Kombinasi dengan suhu yang masih di bawah 5 derajad seharusnya membuatmu menolak mentah-mentah keinginanku. Bukan malah mengejutkanku dengan mengangguk setuju dalam tiga detik.

“Aku rindu bermain komidi putar, makan permen kapas, dan… Membeli boneka tangan. Besok aku jemput jam sembilan pagi,” Ujarmu sambil menjilati jari-jari berselaput saus madu dari udang yang kau makan santai.

Until the days of the spring

Kalau bisa memilih, aku lebih suka menghabiskan waktu dengan window shopping di mall atau duduk menemanimu bermain Wii daripada harus berhadapan dengan matahari dan bau amis khas pantai. Belum lagi kelelahan karena berjalan jauh menyusuri garis pantai sampai kamu merasa cukup kemudian kita akan berbalik, kembali ke tempat kita meninggalkan bekal makan dan sepatu.

Kamu membetulkan posisiku di punggungmu ketika horison tidak lagi berwarna biru, “Kamu harus melatih kakimu, jangan sampai suatu hari seseorang harus mengangkatmu kalau kau ingin ke dapur mengambil camilan. Ini bahkan tidak sejauh jarak dari stasiun ke toko bunga langganan.” Aku membisu tidak menanggapi, jingganya senja lebih menarik dari ceramahmu.

Until the days the flower blossoms

Salah satu kebiasaan yang tidak pernah absen kita lakukan adalah menghabiskan malam di Culcom. Kamu dengan buku penuh istilah asing yang sulit kupahami, dan aku membaca fiksi picisan ditemani segelas tangerine cappuccino khas library cafe 24 jam ini. Kita saling menceritakan isi buku yang kita baca, terkadang linear, terkadang sangat jauh menyimpang tapi kita tidak peduli.

“Menurutmu, jika kita tinggal di Utopia di mana semua keinginan kita selalu terwujud, apakah kita akan benar-benar bahagia? I mean, can you be really happy when there’s no temptation at all because we got everything?” aku mengerutkan alis, mencoba berpikir. Apa tadi katamu? Utopia? Artinya saja aku tidak tahu.

Please stay there a little longer

Aku mengawasimu dari cermin melipat kaus-kaus mahal itu saat menggosok gigi pagi ini. Kuhargai usahamu untuk menatanya serapi yang kamu bisa. Tidak ingin tersedak busa pasta gigi karena menahan tawa, aku segera berkumur lalu mendekatimu, ikut membantu memasukkan barang-barangmu ke dalam koper. Aku tidak ingin berbohong kali ini, melihat lemari besar itu isinya berkurang hampir separuh. Rasanya seperti waktu dahiku terkena lemparan vas bunga. Perih dan membuatku berkunang-kunang. Kamu sedang mencoba menggulung sweater rajut yang langsung kurebut dari tanganmu.

“Simpan yang satunya saja, kamu tahu kan kalau hijau itu warna keberuntunganku?” Kamu mencoba membujukku dan menukarnya dengan sweater yang lain. Aku menggeleng keras, tidak mau melepasnya. Gila. Aku akan gila kalau tidak bisa memakainya lagi setelah ini.

Please…” aku jatuh berlutut memeluk baju hangat itu, mengiba untuk terakhir kalinya. “Please stay…”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s